Sinergitas Pilar Utama Menuju Negara Daulat Pangan

0
2
WhatsApp Image 2018-04-10 at 8.19.08 AM
Menteri Pertanian RI bersama Gubernur Kalimantan Selatan pada acara Kunjungan di Desa Jejangkit Kabupaten Barito Kuala

Batola- Gubernur Kalimantan, Sahbirin Noor, menegaskan, misi negara mewujudkan kedaulatan pangan akan terwujud jika seluruh komponen masyarakat saling bersinergi dan bergotong royong.
Hal tersebut diampaikan Gubernur Kalsel ke 11 itu, di sela mendampingi Menteri Pertanian RI, Andy Amran Sulaiman, melakukan kunjungan di Desa Jejangkit, Kabupaten Batola, Kamis (5/4).
Dikatakan Paman Birin sapaan akrabnya, Indonesia merupakan negara agraris dan sebagian besar wilayahnya adalah areal pertanian. ” Semua pihak harus begotong royong mewujudkan cita- cita mulia negara ini, sehingga, kedaulatan pangan akan terjaga.” ujarnya.
Kita akan menyatu dengan alam. Kita ubah dan hasilkan sesuai (harapan) rakyat. Kita ingin menjadi negeri berdikari, khususnya persoalan pertanian,” ucapnya.
Sementara itu kunjungan Mentan RI dalam rangka melihat secara dekat lahan pertanian Desa Jejangkit, yang direncanakan sebagai lokasi Peingatan Hari Pangan Sedunia – HPS Tingkat Nasional pada Oktober 2018 mendatang.
Apalagi rencananya, Presiden – Joko Widodo akan berhadir pada peringatan HPS ke – 38 tersebut.
Selain melakukan peninjauan, menteri pertanian juga melakukan dialog bersama sejumlah petani di Desa Jejangkit.
Dialog ini bertujuan menghimpun aspirasi para petani, untuk meningkatkan produktivitas pertanian di kawasan tersebut.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, setalah melihat lahan pertanian sebagian besar berkarakteristik pasang-surut dan rawa optimistis pertanian di Kalsel khususnya Batola bakal berhasil dan berkembang.
Menurut Amran, permasalahannya adalah selama ini kurang maksimal diberdayakan sebagai lahan produktif dan sumber pendapatan.
“Enggak ada alasan orang di sini kurang sejahtera atau menganggur. Kami datang untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran itu,” ujarnya .
Kementerian Pertanian (Kementan) mencanangkan optimasi satu juta hektare lahan rawa lebak dan pasang-surut di sembilan provinsi. Di antaranya, Riau, Kalimantan Tenggara, Sumatera Selatan, Kalsel, Jambi, Papua, serta Kalimantan Tengah
Untuk Kalimantan Selatan, optimisasi lahan seluas 67 ribu hektare. Untuk pengerjaannya, Kementan menyerahkan bantuan 40 unit eskavator berbobot 20 ton, dimana setiap alat berat seharga Rp 2 miliar.
Kementan juga akan mendistribusikan mesin pompa berdaya 200 hektare, selain pupuk dan benih. Sedangkan kebutuhan lain, dibebankan ke Pemerintah Provinsi Kalsel dan Pemerintah Kabupaten Barito Kuala.
Adapun biaya optimalisasi ilahan rawa lebak berkisar Rp 3 juta per hektare dan Rp4 juta per hektare untuk pasang-surut. “Ini strategi hemat anggaran. Dulu anggaran Rp16 juta- Rp 20 juta per hektare,” terang Amran.
Sebelum optimalisasi lahan rawa lebak dan pasang-surut, Kementan mencanangkan cetak sawah melalui tanah menganggur untuk menggenjot luas tambah tanam (LTT). Biayanya sekira Rp 16 juta per hektare.
Amran menaksir, optimasi rawa bakal menghasilkan Rp 60 triliun. Perhitungannya, indeks pertanaman mencapai tiga kali dalam setahun (IP-3) pada satu juta hektare lahan tersebut.
Menteri Amran optimis, produktivitasnya mencapai 6-7 ton per hektare. Ini, merujuk proyek percontohan di Ogan Ilir, Sumsel, di mana produktivitas mula-mula 2-3 ton per hektare menjadi tujuh ton per hektare saat musim tanam ketiga.
Di sisi lain, optimalisasi lahan rawa ini juga bertujuan menjaga kedaulatan pangan hingga 100 tahun ke depan. “Kita harus siapkan makanannya dari sekarang. Kita enggak boleh main-main di sektor pangan,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Barito Kuala, Noormiliyani AS, berharap, program-program agraria pemerintah pusat tak sekadar di Desa Jejangkit Muara. “Karena Barito Kuala daerah pertanian,” katanya.
Apalagi, ungkap mantan Ketua DPRD Kalsel ini, antusias masyarakat cukup tinggi. Tak heran optimalisasi ahan rawa di Desa Jejangkit Muara mencapai 750 hektare. “Tadinya 400 hektare,” ungkap dia. (bdm/*).