Gubernur Kalsel Apresiasi Pelajaran PMP Dihidupkan Lagi

0
2

BANJARMASIN – Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor mengungkapkan apresiasinya atas rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengusulkan kembali memasukkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) untuk menguatkan nilai-nilai Pancasila sejak dini di lingkungan sekolah. Dijelaskan Gubernur Sahbirin, PMP merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah sejak tahun 1975. PMP ketika itu menggantikan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang telah masuk dalam kurikulum sekolah di Indonesia sejak tahun 1968. Namun, mata pelajaran PMP diubah lagi pada tahun 1994 menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), dan pada masa Reformasi PPKn diubah menjadi PKn dengan menghilangkan kata Pancasila yang dianggap sebagai produk Orde Baru. “PMP berisi materi Pancasila sebagaimana diuraikan dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau dikenal juga dengan sebutan P4,” terang Paman Birin sapaan akrabnya, Rabu (23/10) malam. Dituturkan Paman Birin, PMP akan kembalikan lagi karena ini banyak yang harus dihidupkan kembali. Sementara itu Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Supriano usai menghadiri upacara peringatan hari guru di gedung Kemendikbud Jakarta mengatakan, Pancasila ini luar biasa buat bangsa kita, itu mungkin yang akan kita lakukan. Namun, diakui Supriano, wacana pengembalian mata pelajaran PMP ini masih dalam bentuk rencana dan pembahasan. Dia juga belum bisa memastikan materi PMP yang akan diajarkan kepada siswa di sekolah nantinya dalam bentuk materi lama seperti PMP di masa Orba atau justru materi baru. “Ini masih dibahas, kita akan bahas,” kata dia. Supriano menjelaskan, permasalahan munculnya paham-paham radikalisme dan berbagai paham lain yang bertentangan dengan norma Pancasila sebagai dasar negara pun diakuinya menjadi salah satu alasan pendidikan dasar ini mesti kembali diterapkan. Sebab, Pancasila, kata dia, bisa digunakan sebagai pondasi untuk membentengi seseorang dari paham-paham radikal yang merusak bangsa. “Kita punya pondasi pancasila sebagai dasar, dari lima sila itu kan bisa membentengi seseorang, dari lima sila itu bisa membentengi orang menjadi lebih baik,” kata dia. Dia memastikan PMP yang diwacanakan akan kembali dipelajari ini nantinya tak hanya sekadar ilmu hafalan bagi siswa sekolah, tetapi harus juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Ini yang kami sedang siapkan untuk kembali lagi pendidikan pancasila yang lebih eksplisit, Pancasila-nya bunyi,” kata dia. “Pembelajaran pancasila bukan ceramah-ceramah. Kita sesuaikan misalnya tolong-menolong. Nanti polanya tidak seperti dulu menjadi hafalan ke depan ini penyampaiannya melalui siswa aktif. Pancasila bukan untuk dihafal tapi untuk dipraktikkan.” pungkasnya. (bdm)